Belajar membuat Es Lilin seperti Es Cream di Swalayan

Kadang ide usaha itu tidak harus dari kita sendiri. Bisa jadi kita mendapat dari melihat ide orang lain dan kita cukup ATM (Amati Tiru & Modifikasi) saja. Begitulah yang saya lakukan. 1 pekan yang lalu saya mampir ke seorang agen yoghurt untuk suplay produk ke rumahnya. Ketika saya selesai mengantarkan yoghurt yang dia pesan, saya ditawari untuk mencicipi es lilin (mirip es cream di swalayan yang ada gagangnya). Saya mencicipi dan memakan 1 es, ternyata rasanya lumayan nikmat.

sampai di rumah saya berfikir untuk bisa membuat es semacam itu dengan variasi rasa lebih banyak dan branding yang lebih menarik. Hal pertama yang saya lakukan adalah membuka kitab kuno (google, red) dan saya searching resep-resep dan cara pembuatannya. Ternyata es tersebut harus menggunakan alat khusus pembuat es lilin. Dan saya belum mempunyai alat tersebut.

Setelah saya menemukan resep dan cara pembuatannya, akhirnya saya mulai belanja bahan-bahan yang ada di resep tersebut. Saya berfikir alat pembuatnya itu hanya berfungsi membekukan es saja. Karena saya memiliki freezer yang ukurannya sedang, maka saya akan mencoba untuk membuat dan pendinginannya angsung saya masukkan freezer.

Saya mulai belanja bahan-bahan di toko bahan kue yang terkenal di kota malang. Setelah semua bahan tersedia, akhirnya hari ini saya dan istri mulai ber eksperimen membuat es lilin yang seperti di swalayan-swalayan itu. Bahan-bahan itu kami proses dan selanjutnya kami tempatkan ke dalam cetakan es yang sudah ada. Setelah masuk ke dalam cetakan lalu saya memasukkannya ke dalam freezer dan beberapa menik kemudian saya memasang gagang kayu untuk pegangan esnya. Menunggu sampai beku dan nanti kita akan sama-sama melihat hasilnya…..(karena sambil saya menulis ini, saya juga masih menunggu es nya membeku, nanti hasilnya saya kasih tahu ya…)

es cream

Es Lilin saya masih dalam proses pendinginan

Saya Memulai Usaha

Jujur saja, saya memutuskan untuk keluar dari kantor hanya bermodal keyakinan bahwa “Allah Maha Memberi Rezeki”. Setelah tragedi 1 September itu (maksudnya tanggal dimana saya resmi keluar dari kantor hehe), sayamulai fokus untuk menjalankan konsep usaha saya, yaitu usaha Yoghurt. Waktu itu, saya belum menemukan merek yang cocok untuk produk saya. Akhirnya untuk memudahkan orang mengingat nama merek dagang saya, saya beri merek “YO GOOD” dengan alasan pengucapannya mirip-mirip dengan yoghurt hehe. Awalnya senang karena memiliki produk sendiri dan merek sendiri. Tapi kesenangan itu berubah menjadi kegalauan karena sadar bahwa sebenarnya PERTEMPURAN BARU AKAN DIMULAI…. (agak serius ini….).

Saya memulai usaha yoghurt hanya dengan modal gaji terakhir dan masih belum memiliki freezer box. Dengan bermodal gaji terakhir yang saya terima, akhirnya saya belanjakan yoghurt dengan harapan modal tersebut cepat kembali dan akan terus berkembang. Dengan berserah diri kepada Allah, akhirnya saya belanja sterofoam sedang untuk tempat yoghurt. Berangkat dari rumah jam 7 pagi saya mulai keliling mencari tempat-tempat yang bisa saya titipin yoghurt dengan sistem bagi hasil. Awalnya saya memasuli SMA-SMA di sekitar balai kota, terus ke sekolah-sekolah di daerah stadion Gajayana, tembus jalan Bandung, di sekolah-sekolah sepanjang jalan Veteran, sampai jalan galunggung. Alhamdulillah semua tempat yang saya kunjungi menolak produk yoghurt saya… :’( (dalam hati menangis terbahak-bahak…). Setelah tengah hari, saya pulang dan dengan prestasi yang sangat membanggakan, yaitu saya ditolak dan saya akhirnya tahu alasan-alasan saya tertolak sehingga berikutnya saya tinggal membuat alasan-alasan produk saya diterima (menghibur diri).

Sempat stress dan galau karena otak sudah mulai masuk ke dalam fikiran-fikiran pesimis tehadap usaha yang saya geluti. Sambil terus berdo’a, akhirnya saya keliling lagi mencari tempat penjualan. Alhamdulillah satu demi satu menerima produk yoghurt saya. Di bulan pertama saya keluar kantor, saya baru berhasil mendapatkan 5 tempat penjualan. Dan sebulan saya bekerja, saya diberikan rezeki oleh Allah sebesar 400 ribu. Hasil yang sangat kecil jika dibandingkan dengan gaji saya dikantor sebelumnya, tapi saya yakin uang tersebut barokah karena melibatkan kerja keras dan do’a-do’a saya dan keluarga saya untuk mendapatkannya.

Hari demi hari usaha yang saya tekuni mulai memberikan hasil yang lumayan. Setelah 2 bulan, saya mempunyai 20 tempat penjualan dan mulai ada beberapa orang yang tertarik menjadi agen/reseller dari produk yoghurt saya. Pernah suatu saat saya ditelephone dari sebuah RS yang terkenal di Kota Malang untuk me-suplay produk yoghurt ke RS tersebut dan diminta rutin sekaligus suplay untuk acara ulang tahun RS yang melibatkan ribuan orang untuk jalan sehat. Permintaan tidak hanya dari kota Malang saja, tapi juga dari luar kota Malang.

Kini, saya memiliki agen/reseller di kota Malang sejumlah 8 orang, dan beberapa agen di luar kota seperti; Sidoarjo, Surabaya, Sampang, Magetan, dan Mataram, dengan omzet rata-rata baru 50-60 juta per bulan.

Satu hal lagi, yang sebelumnya saya bekerja di kantor minimal 8 jam sehari, sekarang saya bekerja dengan jam kantor semau saya hehe…dan saya tidak segan untuk mengantar produk saya sendiri ke tempat-tempat penjualan tersebut :)